Lapar
tak dirasakan orang lain. Hanya kitalah yang merasakannya. Keadaan itu
pernah kualami dulu, sehabis pertandingan bola voli di sebuah lapangan.
Untunglah disaat itu ada seorang teman yang sedang melangsungkan pesta
pernikanan. Karena itu, usai pertandingan, aku dan teman-temanku yang
lain sepakat untuk langsung datang ke pesta itu. Tak memakai batik atau
pakaian pesta, hanya ganti kaos saja. Itu juga hasil sebuah kesepakatan.
Toh, yang menikah masih sama-sama pemain bola voli.
Tiba
di sana, pesta sedang ramai. Sebagian kursi tamu sudah terisi. Ditambah
lagi dengan antrian yang cukup panjang. Maklum akad nikah baru saja
usai, jumlah anggota rombongan pengantin pria banyak sekali. Aku dan
belasan temanku turut antri. Selama antri, berkali-kali perutku bunyi.
Memalukan sekali, kata temanku. Aku lapar sekali, kataku. Dalam antrian
itupula, aku terus menggerutu, panjang amat sih antrian ini. Selain
panjang, macet cukup lama.
Akhirnya
sampai juga aku di tempat hidangan. Selera makanku langsung naik saat
melihat berbagai hidangan di atas meja. Nasi, sate, soto dan masakan
lainnya, dan kebetulan ada semur daging, masakan kesukaanku. Tanpa pikir
lagi, aku mengambil satu persatu masakan itu, termasuk nasi. Karena
kebanyak mengambil nasi, maka piringku menjadi penuh. Mucung, begitu
istialh temanku. Tak apalah, pikirku. Masa mau dikembalikan, kan malu.
Lagi pula antrian juga masih panjang. Pasti akan mengganggu.
Segera
aku mencari tempat duduk, diikuti teman-temanku. Karena kursi di
halaman rumah sudah penuh, maka aku melirik dekat pengantin. Kebetulan
di sana kosong, maka aku memilih duduk samping pengantin wanita,
sedangkan teman-temanku duduk di kursi lain. Karena lapar, aku menyantap
sate lebih dahulu. Nikmat banget rasanya. Aku enggak tahu apa yang
dirasakan oleh teman-temanku, pasti mereka merasakan hal yang sama.
Saat
makan, aku terbiasa selalu membelakangkan makanan kesukaanku. Tentu
saja, pada saat itu adalah semur daging. Kupandangi benda yang
berselimutkan kecap itu. Pasti labih nikmat dari sate yang sudah
kusantap. Kutusuk semur daging itu dengan garpu, lalu kutekan dengan
sendok dan kutarik agar terpotong. Namun entah mengapa benda itu susah
terpisah. Liat, begitu istilah Sundanya.
Berikutnya,
aku coba lagi, tetap benda itu tidak terpotong. Sekali lagi kucoba,
dengan sedikit pemaksaan. Namun tiba-tiba saja semur daging itu lenyap.
Aku melirik ke lantai, benda yang kubayangkan nikmat itu tidak nampak.
Aku melirik ke berbagai arah. Akhirnya kutemukan juga. Rupanya semur
daging itu nongkrong di pangkuan pengantin wanita. Mukaku berubah merah,
selera makanku menurun. Ya ampun kenapa bisa berada di sana, bisikku.
Karena
takut mengotori baju pengantin, maka aku bermaksud mengambilnya. Aku
mencoba melirik teman-temanku. Beruntung sekali, mereka sedang asyik
makan, dengan serius menatap piringnya. Pelan-pelan aku bangkit dari
kursi. Pelan-pelan pula aku mendekati pengantin wanita. Garpuku
kutujukan pada daging itu. Beruntung garpu tepat sasaran. Namun
akibatnya fatal. Pengantin wanita menjerit. Bersamaan dengan
teman-temanku tertawa terbahak-bahak. Selain mereka, ternyata juga tamu
yang lainnya. Duh malunya !!!
---sekian---
by : usniarie.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar