HOME

(punya tulisan yg mau di share di medaners.com ???, silahkan kirimkan via email : kedemedan@gmail.com , SEGERA DITAYANGKAN!! :), dengan Tema : malam Jum'at= Horor , malam Sabtu&Minggu= Romantik , malam Senin= Komedi. Terimakasih telah berpartisipasi...)

Minggu, 02 Oktober 2011

Aku, Semur Daging dan Pengantin Wanita



Lapar tak dirasakan orang lain. Hanya kitalah yang merasakannya. Keadaan itu pernah kualami dulu, sehabis pertandingan bola voli di sebuah lapangan. Untunglah disaat itu ada seorang teman yang sedang melangsungkan pesta pernikanan. Karena itu, usai pertandingan, aku dan teman-temanku yang lain sepakat untuk langsung datang ke pesta itu. Tak memakai batik atau pakaian pesta, hanya ganti kaos saja. Itu juga hasil sebuah kesepakatan. Toh, yang menikah masih sama-sama pemain bola voli.

Tiba di sana, pesta sedang ramai. Sebagian kursi tamu sudah terisi. Ditambah lagi dengan antrian yang cukup panjang. Maklum akad nikah baru saja usai, jumlah anggota rombongan pengantin pria banyak sekali. Aku dan belasan temanku turut antri. Selama antri, berkali-kali perutku bunyi. Memalukan sekali, kata temanku. Aku lapar sekali, kataku. Dalam antrian itupula, aku terus menggerutu, panjang amat sih antrian ini. Selain panjang, macet cukup lama.

Akhirnya sampai juga aku di tempat hidangan. Selera makanku langsung naik saat melihat berbagai hidangan di atas meja. Nasi, sate, soto dan masakan lainnya, dan kebetulan ada semur daging, masakan kesukaanku. Tanpa pikir lagi, aku mengambil satu persatu masakan itu, termasuk nasi. Karena kebanyak mengambil nasi, maka piringku menjadi penuh. Mucung, begitu istialh temanku. Tak apalah, pikirku. Masa mau dikembalikan, kan malu. Lagi pula antrian juga masih panjang. Pasti akan mengganggu.

Segera aku mencari tempat duduk, diikuti teman-temanku. Karena kursi di halaman rumah sudah penuh, maka aku melirik dekat pengantin. Kebetulan di sana kosong, maka aku memilih duduk samping pengantin wanita, sedangkan teman-temanku duduk di kursi lain. Karena lapar, aku menyantap sate lebih dahulu. Nikmat banget rasanya. Aku enggak tahu apa yang dirasakan oleh teman-temanku, pasti mereka merasakan hal yang sama.
Saat makan, aku terbiasa selalu membelakangkan makanan kesukaanku. Tentu saja, pada saat itu adalah semur daging. Kupandangi benda yang berselimutkan kecap itu. Pasti labih nikmat dari sate yang sudah kusantap. Kutusuk semur daging itu dengan garpu, lalu kutekan dengan sendok dan kutarik agar terpotong. Namun entah mengapa benda itu susah terpisah. Liat, begitu istilah Sundanya.

Berikutnya, aku coba lagi, tetap benda itu tidak terpotong. Sekali lagi kucoba, dengan sedikit pemaksaan. Namun tiba-tiba saja semur daging itu lenyap. Aku melirik ke lantai, benda yang kubayangkan nikmat itu tidak nampak. Aku melirik ke berbagai arah. Akhirnya kutemukan juga. Rupanya semur daging itu nongkrong di pangkuan pengantin wanita. Mukaku berubah merah, selera makanku menurun. Ya ampun kenapa bisa berada di sana, bisikku.

Karena takut mengotori baju pengantin, maka aku bermaksud mengambilnya. Aku mencoba melirik teman-temanku. Beruntung sekali, mereka sedang asyik makan, dengan serius menatap piringnya. Pelan-pelan aku bangkit dari kursi. Pelan-pelan pula aku mendekati pengantin wanita. Garpuku kutujukan pada daging itu. Beruntung garpu tepat sasaran. Namun akibatnya fatal. Pengantin wanita menjerit. Bersamaan dengan teman-temanku tertawa terbahak-bahak. Selain mereka, ternyata juga tamu yang lainnya. Duh malunya !!!




---sekian---



by : usniarie.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar