HOME

(punya tulisan yg mau di share di medaners.com ???, silahkan kirimkan via email : kedemedan@gmail.com , SEGERA DITAYANGKAN!! :), dengan Tema : malam Jum'at= Horor , malam Sabtu&Minggu= Romantik , malam Senin= Komedi. Terimakasih telah berpartisipasi...)

Sabtu, 10 September 2011

Cinta Laki-Laki Biasa



Menjelang hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu.

Baru stlh nengok ke belakang, gadis cantik itu sadar, keheranan yg tjd bkn smata miliknya, melainkan mjd milik semua keluarga & tmn2nya.

Mrk ternyata sama herannya. 3 bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan Rafli untuk melamarnya. "Nania serius!" tegasnya kpd papanya.

Kata papanya "Papa hny tdk ngira Rafli berani melamar ank Papa yg plg ctk!" Nania senyum. Sikit lega krn kalimat Papa barusan pertanda baik.

Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat tidak menyukai Rafli. "Tapi kenapa?"

Sebab Rafli cuma laki2 biasa, dr keluarga biasa, dgn pendidikan, penampilan,pekerjaan & gaji yg amat sgt biasa. Nania menjadi marah.

Tak pd tempatnya ukuran2 duniawi mjd parameter kebaikan seseorang mjd manusia. Sygnya Nania lagi2 gagal membuka mulut dan membela Rafli.

Gadis itu tak punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli tampak 'luar biasa'. Mereka akhirnya menikah. Setahun pernikahan berlalu.

Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering berbisik- bisik di belakang Nania, apa sebenarnya yang dia lihat dari Rafli.

Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu sangat bahagia. Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga berhenti.

Padahal Nania & Rafli sdh pny 2 org anak, 1 lelaki & 1 perempuan. Menginjak tahun ke7 pernikahan, posisi Nania di kantor semakin gemilang.

Uang mengalir, rmh Nania besar, anak2 pintar & lucu, & Nania memiliki suami terbaik di dunia. Thn ke10 pernikahan, hdp Nania msh stabil.

Anak-anak semakin besar. Selama kurun waktu itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat Nania menangis.

Shg pd suatu saat Nania mengandung yang ketiga. Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua minggu dari waktunya.

Harus segera dikeluarkan! Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan sejenis obat ke dalam rahim Nania.

Anehnya, meski sdh obat kedua yg dimasukkan, Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Pembukaan berjalan lambat sekali.

30 jam berlalu. Pembukaan 2. Saat pemb. pecah, didahului kluarnya drh, mrk berbahagia sbb dulu2 kelahiran akan mengikuti stlh ketuban pch.

Perkiraan mereka meleset. Rafli tercengang. Cemas. Nania sedih krn rasa skt yg sdh tak sanggup lg ditanggungnya. Kondisi Nania makin sulit.

Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya. Nania berusaha mengusir kekhawatiran.

Ia senang karena Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar operasi. Ia tak suka merasa sendiri. Pembiusan dilakukan.

Nania dibawa ke ruangan serba putih. Sebuah sekat ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan dokter-dokter itu.

Sdh seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari kediamannya ke rumah sakit. Ia hrs membagi perhatian bg Nania & jg anak2.

Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah.

Syukurnya pihak perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh. Rafli menjaga Nania siang dan malam.

Rafli berusaha berkomunikasi dgn membisikkan kata2 ke telinganya. Rafli percaya meskipun tdk mendengar, Nania bs merasakan kehadirannya.

Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan berpikir untuk pasrah, Rafli masih berjuang berkomunikasi dgn Nania.

Datang setiap hari ke rumah sakit, menggenggam tangan istrinya mesra. Kdg dia membawakan buku-buku kesukaan Nania dan baca dgn suara pelan.

Pd hari ke-37 doa Rafli terjawab. Nania sadar & wajah penat Rafli adalah yg pertama ditangkap matanya. Seakan tlh begitu lama.

Rafli menangis, menggenggam tangan Nania dan mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan airmata yg meleleh.

Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi. Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun terakhir.

Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke sekolah satu per satu. Begitu setiap harinya.

Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju rumah dan menggendong Nania ke teras.

Melihat senja dtg sambil memangku Nania seperti remaja belasan thn yg sdg jth cinta. Saat malam Rafli mendandani Nania agar ctk sebelum tdr.

Membersihkan wajah pucat istrinya, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin Nania sll merasa ctk. Meski seringkali Nania mengatakan itu tak perlu.

Awalnya Nania merasa risih dgn pandangan orang2 di sekitarnya. Mrk semua yg menatapnya iba, lebih2 pada Rafli yang tak lelah2nya.

Masih dengan senyum hangat di antara wajahnya yang berkeringat. Lalu berangsur Nania menyadari mereka tak hanya memberi pandangan iba.

Mrk jg mengomentari, semua berbisik-bisik. "Baik sekali suaminya!" "Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!" "Nania BERUNTUNG!"

Ya. 22 thn pernikahan. Nania menghitung semua, anak2 yg beranjak dewasa, rmh bsr yg mereka tempati, kehidupan yg lbh dr yg bisa dia syukuri.

Meski tubuhnya tak berfungsi sempurna. Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah direbut takdir dari tangannya...

Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki biasa yang tak pernah berubah, untuk Nania. 



-Sekian-


by akun twitter @anakmedannn
(disadur dari karya Asma Nadia)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar